Teko hanya menuangkan apa yang didalamnya. Jika diisi air teh akan keluar air teh, jika diisi air putih bersih yang keluarpun demikian adanya.
Demikianlah gambaran diri kita, perilaku dan lisan kita hanyalah isi yang tertuang dari kondisi hati kita.
Lama kurenungkan nasehat ini,
Sederhana, namun dalam kurasa. Ya, tak perlu repot sesungguhnya aku melihat diriku sendiri. Cukuplah kulihat akhlak pekertiku dan lisan ini. Sesungguhnya apa yang aku ucapkan dan apa yang aku lakukan itulah sesungguhnya kondisi hatiku. Benarlah apa yang dikatakan Sang Rasul saw. ’ sesungguhnya ada segumpal daging dalam dirimu, jika ia baik maka baik pulalah semuanya ’.
Iya….cukup 1 itu saja yang baik, terjaga, lurus, maka seluruh anggota tubuhku ini akan sama baiknya.
Sesungguhnya Alloh berikan indikator tentang kondisi kita ada pada diri kita sendiri. Sesungguhnya tak perlu repot mencari-carinya ke luar diri kita. Alloh sudah sediakan itu untuk kita. Tinggal, keinginan diri untuk merenunginya, memikirkannya saja yang harus terus digerakkan.
Ya Rabb…berilah kekuatan pada diri ini untuk senantiasa memperbaiki hatinya. Hanya kemurahanMu yang membuat semuanya menjadi nyata, hanya ke RahimanMu hati ini bisa menjadi lembut dan menjadi Qalbun saliim…
Amin Ya Rabb…
Allah Almusta’an

6 comments
Comments feed for this article
Mei , 2008 pada 1:37 pm
ary san
Bu tika, puisinya dipublish disini dongs. hehe
Mei , 2008 pada 6:42 am
ILYAS AFSOH
Anda pakai teko, Kami orang gresik pakai KENDI.
Mei , 2008 pada 9:22 am
atikahmubarak
kendi, ceret, dll juga boleh pak, ini hanya perumpamaan saja..
Mei , 2008 pada 5:20 am
nenyok
Salam
Subhanalloh, memang Mba hanya Alloh sajalah pembolak-balik hati
Mei , 2008 pada 9:25 am
guss
Kita butuh cermin itu…
cermin diri “sebuah teko” : untuk merenungi kata-kata kita yang terakhir terucap, untuk melihat kembali langkah kaki yang terlanjur tergerakkan… untuk merefleksikannya di jalan masa depan.. sebuah titian pasti menuju pengadilanNya…
hingga jiwa ini tenang… tak ada kesuksesan sebelum ke dua kaki berhenti di dalam surga..
Mei , 2008 pada 8:34 am
atikahmubarak
iya…kita adalah hamba yg berusaha menjadi hambaNya. dengan daya upaya kita. semoga langkah tak terhuyung, dan hati tak gamang. Cukup Dia saja…