Kuketuk pintunya
Kupanggil namanya
Kutunggu ia datang
Tapi…ia belum jua ada Rabbku
‘oh, ada yang datang menujuku’
Hadiah yang kuharap telah Kau beri
‘oh, betapa suka citaku membuncah Rabb… ’
‘ it’s very beautiful…’
‘ oh, Rabb….’
‘Bukan…aku salah….’
Ia hanya lewat sesaat saja
Kutahan tetesan airmata ini, namun gagal
‘oh, ternyata belum lagi datang hadiahMu ‘
Rabb…bertahun ku pinta, bertahun ku bersabar menanti hadiahMu
Rabb…aku akan tetap bersabar memohon dan menunggu
hadiahMu…
teman sejati pelipur laraku
teman setia suka dukaku
teman duduk jalanku
’ ia pasti ada ’
’ Sebuah hati ikhlas dan penuh minat ’
karena kutahu Kau masih menyimpannya dengan apik
dan menunggu waktu terbaik untukku
’ cukuplah obatku hari ini, setetes air bening disudut mata ’

3 comments
Comments feed for this article
Mei , 2008 pada 1:37 pm
andhieni
Mbak Andhien juga senang curhat ama Tuhan, tapi kok’ nggak se indah curhatnya jeng Atik. Mbak, iri deh!. Mbak jadi ingat dengan pusinya Jalaludin Rumi. Emang gitu ya?Ahli sufi itu pintar buat puisi?
Mei , 2008 pada 5:18 am
nenyok
Salam
Hmm poetry yang indah, yakinlah ia akan ada, karena Rabb mengerti doa hamba-hamba-Nya. Amin
Mei , 2008 pada 9:39 am
guss
“ia pasti ada”
semua sudah dalam jatah yang pasti, tidak tertukar, sebagiannya adalah ujian bagi hamba-hamba yang dicintaiNya… yang akan menjadi hadiah terindah pada saat yang tepat.. Amin